Buku Mutiara Falsafah Buya Hamka -  Lembaga Hidup oleh Buya Hamka
Rp 84.000

Buya Hamka

Mutiara Falsafah Buya Hamka - Lembaga Hidup

Mutiara Falsafah Buya Hamka - Lembaga Hidup

Buku

Detail Produk

Penerbit

Republika

Berat

270 gram

Tipe Produk

Buku

Kategori

Islam

Bahasa

Indonesia

Jenis Cover

Softcover

Deskripsi

"Garis perjalanan hidup setiap manusia telah ditetapkan sejak dalam kandungan. Rejeki telah tersedia. Ajal telah tentu. Amal usaha telah terbentang. Inilah “Lembaga Hidup”. Tuangan yang berbentuk menurut barang-barang yang dicita-citakan akan tercipta setelah bahan-bahannya dituangkan ke dalamnya.

Melalui buku ini, Buya Hamka mengajak kita untuk berikhtiar menuang lembaga hidup kita masing-masing dengan berbagai kewajiban sesuai tuntunan Islam dan tidak membiarkannya menjadi sebatas lembaga. “Marilah berusaha, moga-moga sesuailah usaha kita dengan ketentuan yang telah disediakan Tuhan buat kita,” nasihat Buya.

Di buku ketiga seri Mutiara Falsafah Buya Hamka ini ragam kewajiban diuraikan, mulai kewajiban kepada diri pribadi, keluarga, masyarakat, ilmu pengetahuan, tanah air, politik, hingga harta benda. Dan, di atas semua itu, diuraikan juga kewajiban yang terpenting; kewajiban kepada Allah Swt."

Tentang Penulis

Buya Hamka
Buya Hamka

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenal dengan nama pena Buya Hamka, adalah seorang ulama kharismatik, sastrawan legendaris, dan pahlawan nasional Indonesia. Lahir di Sumatra Barat pada tahun 1908, ia merupakan sosok autodidak yang melahirkan karya-karya monumental lintas genre, mulai dari tafsir agama hingga novel roman. Perpaduan unik antara kedalaman ilmu keislaman dan kepekaan sastranya membuat gaya penulisannya sangat menyentuh hati, humanis, dan mudah dicerna oleh berbagai lapisan masyarakat di Asia Tenggara. Sebagai sastrawan, Hamka berhasil menggetarkan dunia literasi lewat novel ikonik seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah, yang mengkritik tradisi kawin paksa dan rigiditas adat berlatar budaya Minangkabau. Namun, mahakarya terbesarnya yang mengukuhkan posisinya sebagai pemikir Islam terkemuka adalah Tafsir Al-Azhar, sebuah karya komprehensif 30 juz yang sebagian besar ia selesaikan saat mendekam di penjara sebagai tahanan politik era Orde Lama. Dedikasi hidupnya dalam menulis tidak hanya memperkaya khazanah sastra nasional, tetapi juga memberikan tuntunan moral dan spiritual yang tetap relevan hingga hari ini.

Lihat profil lengkap

Ulasan Produk

0,0
0 ulasan
5
0
4
0
3
0
2
0
1
0

Belum ada ulasan untuk produk ini.

Produk Terkait

Lihat Semua